Namun bila melihat lebih dekat, pulau ini ternyata tempat tinggal nyaman bagi reptil biawak. Populasi reptil purba ini sangat banyak. Mereka bebas berkeliaran sehingga akhirnya pulau ini lebih dikenal dengan nama Pulau Biawak. Pulau Rakit jaraknya sekitar empat puluh kilometer dari kawasan pesisir Indramayu.
Kapal ini biasanya juga digunakan untuk mengangkut wisatawan yang ingin berlibur ke pulau ini. Hanya saja, kapten kapal baru menjalankan kapal motornya asal ada rombongan yang bersedia menyewanya. Biaya sekitar dua juta rupiah, pulang bali.
Kurangnya sarana transportasi yang memadai, memang membuat sebagian objek wisata di Indonesia menjadi mahal, hingga sebagian akhirnya mati, karena tidak ada satu pengunjung yang datang. Para nelayan biasanya mencari ikan di perairan pulau ini.
Tercatat ada sekitar sembilan puluh lima jenis ikan, sebagian bisa diamati langsung hanya dengan menyelam sedalam satu meter. Kapal kami tidak bisa merapat, karena perairan sangat dangkal, sehingga kami terpaksa menggunakan sampan untuk mencapai dermaga.
Pulau Rakit sudah lama dijadikan pusat penangkaran dan penelitian flora dan fauna yang beragam. Salah satu yang menarik adalah populasi biawak yang cukup banyak, sehingga pulau ini lebih dikenal dengan nama Pulau Biawak.
Reptil ini bebas berkeliaran dan sudah ada di pulau ini sejak ratusan tahun lalu. Hewan ini akan keluar dari persembunyiannya, jika mencium bau amis.Biawak masih satu saudara dengan komodo yang habitat-nya ada flores nusa tenggara timur. Hanya ukurannya saja yang lebih kecil.
Di pulau ini, jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor. Mereka bebas dan terlindungi. Padahal di beberapa tempat, reptil ini selalu diburu, karena kulit dan dagingnya adalah uang. Karena kulit dan dagingnya adalah uang.
Segmen 2
Belum diketahui, sejak kapan biawak ini menjadikan Pulau Rakit tempat tinggal yang nyaman. Reptil ini, kabarnya sudah ada sejak manusia pertama kali datang ke pulau ini, lebih dari se – abad yang lalu.
Bila habitatnya di pesisir, kegemarannya adalah menyantap ikan. Namun bila di sawah, reptil juga gemar menyantap kodok bahkan serangga. Menjelang senja, anda bisa mendapati reptil ini berenang mencari makan, berupa ikan segar.
Dibandingkan komodo, ukuran biawak lebih kecil. Paling panjang yang ditemui sekitar tiga meter.Hewan ini bertelur. Biasanya disembunyikan di lubang lubang di semak semak, agar tidak dimangsa hewan buas.
Reptil ini sangat agresif. Sewaktu waktu ia bisa menyerang manusia, apabila merasa terganggu.Namun bagi Sumanto, biawak ini seolah hewaan piaraan yang tidak menyeramkan. Selama bertahun tahun ia hidup dan bergaul dengan hewan buas ini.Setiap hari ia menjaring ikan, makanan yang paling disukai biawak. Pekerjaan ini sudah menjadi kesehariannya.
Menurut Sumanto diantara ratusan reptil buas ini, ada sekitar empat puluh ekor yang jinak. Mereka akan keluar dengan sendirinya bila Sumanto datang membawa santapan kesenangannya.
Pekerjaan Sumanto ini menjadi hiburan menarik dan langka. Melihat bagaimana biawak biawak ini keluar dari sarangnya dan begitu lahap menikmati santapannya. Sumanto sebenarnya adalah pegawai pemerintah yang bertugas menjaga dan mengendalikan menara mercusuar di pulau ini.
Di beberapa daerah, populasi reptil ini semakin berkurang, karena terus diburu untuk diambil kulit dan dagingnya yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.Pekerjaan Sumanto yang lain dan penting adalah menjaga dan mengoperasikan mercusuar. Ia melakukannya bersama rekan-nya yang lain bernama Slamet.
Mereka berdua tinggal di pulau ini untuk bersama mercusuar yang sudah berusia ratusan tahun. Pekerjaan yang menjemukan. Apalgai dilakukan di tempat terpencil yang jauh dari keramaian kota. Kendati demikian, tanpa bantuan kedua orang ini, lalu lintas pelayaran di perairan ini bisa terganggu.
Segmen 3
Usia mercusuar ini sama tuanya dengan mercusuar yang berdiri tegak di Anyer Banten.Bagunan ini berdiri dengan kokoh, kendati sebagian besi penunjang sudah mulai kropos dimakan waktu. Slamet sehari hari bertugas merawat bangunan ini bersama Sumanto.
Ia harus membersihkan kaca, agar cahaya lampu bisa dengan jelas terbaca nahkoda kapal yang kebetulan melintas di perairan ini. Ia juga harus mengecek lampu, apakah mengalami kerusakan atau tidak.
Pada jaman dahulu, sebelum ada lampu, biasa-nya menggunakan api. Kini sebagian besar mercusuar sudah dilengkapi peralatan lampu atau lensa yang canggih. Ia bersama Sumanto sudah bertahun tahun melakukan pekerjaan ini.
Kondisinya sangat memperihatinkan. Beberapa bagian sudah berkarat dan keropos. Slamet harus lebih sering membersihkannya, karena sangat berbahaya buat dia dan rekannya Sumanto. Bangunan seperti ini fungsinya memang sudah
tidak seperti pada masa lalu. Berkembangnya peralatan pemantau canggih, seperti GPS, telah mengubah mercusuar menjadi banguan bersejarah. Di ketinggian enam puluh lima meter, pemandangan begitu mempesona.
Ketika menjelang malam, suasana semakin sepi dan terpencil. Namun bagi Slamet dan Sumanto, hal itu sudah biasa. Suasana seperti ini seolah membawa kita ke masa lalu, jaman kolonial yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor serta hingar bingar informasi dari belasan stasiun televisi.
Cahaya lampu bisa menjangkau hingga puluhan kilometer dan akan sangat berguna, buat kapal yang melintasi perairan ini agar tidak mengahantam karang. Siang hari, seperti biasa Sumanto kembali memberi makan biawak bawaknya. Sebuah rutinitas di pulau kecil yang bernama biawak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar